Explore my side projects and work using this link

Upsidedown is a WordPress theme design that brings blog posts rising above inverted header and footer components.

Sinestesia yang Meng-Anestesi

Written in

oleh

1754
salah satu set visual dari konser sinestesia

Salah satu pengalaman yang paling indah selama hidup itulah satu kalimat yang terucap setelah menyaksikan konser sinestesia secara langsung, 13 january 2016 di Teater Besar, Jakarta, pukul 20.00-22.30. Ketika menginjak taman ismail marzuki, Tak terbayangkan sebelumnya konser Sinestesia akan seluar biasa ini. Karena ekspektasi yang ada hanya mengikuti dan menyesuaikan dengan konser sebelumnya “Pasar Bisa Dikonserkan” , sound yang biasa saja, dengan set panggung standar pensi SMA, namun penuh akan kejutan dalam aspek kolaborasi.

Menunggu cukup lama didalam Teater besar cukup membosankan, konser yang seharusnya digelar pukul 20.00 ini bergeser menjadi 20.30, ngaret setengah jam. setelah masuk dan duduk masih banyak panitia dan pengunjung yang berjalan kesana-kemari, mencari tempat duduk, dan ada beberapa yang sempat jadi masalah karena nomor kursi yang ia miliki telah di tempati oleh orang lain.

Ditengah riuhnya penonton, dan rasa bosan untuk menunggu, muncul suara announcer seorang wanita yang menceritakan tentang masa kecil seorang bocah, suara yang terdengar tak terlalu jelas, yang tertangkap ialah sang bocah ingin menjadi musisi dan mulai belajar sejak usia dini. Mungkin seharusnya monolog itu mengawali konser sinestesia, namun ketika announcer itu selesai tidak juga tirai panggung teater besar terbuka, membuat monolog yang ada menjadi kurang jelas maksudnya. Ternyata itu bukanlah bagian dari acara, hanya bagian awal dari lagu “panggung perak” dari fariz rm, karena memang sebelum acara dimulai diputar banyak lagu-lagu era itu. setelah lama berselang terdengar announcer pria mengumumkan peraturan-peraturan yang ada dan mengatakan bahwa konser ini akan dibagi jadi 2 babak, sekaligus membuka konser Sinestesia ini.

Dan tirai pun terbuka!, terdengar suara gitar cholil melantunkan melodi “tubuhmu membiru tragis” dengan sekejap rasa bosan, lelah, dan kantuk menghilang dan berganti dengan perasaan kagum dan kaget! Set panggung yang luar biasa, dibuat seperti kubus yang pada bagian belakangnya mengecil, berbentuk perspektivis, dan menunjukan kedalaman ruang pada panggung yang ada, set yang serba putih dan juga pakaian yang serba putih dibalut dengan maping cahaya berwarna-warni dari seniman Irwan Ahmett, kontras cahaya sangat terasa membuat keadaan menjadi semakin khidmat, ini set panggung yang paling indah selama saya melihat dan menyaksikan konser. Ditambah lagi dengan iringan orchestra Alvin Witarsa dan sound system yang prima. Suasana dalam Teater Besar ini dibuat menjadi dramatis, magis, dan elegan. sorak sorai penonton pun pecah.

di babak 1 konser ini efek rumah kaca membawakan lagu dari album-album sebelumnya, diantaranya mosi tidak percaya, efek rumah kaca, cinta melulu, balerina, melankolia, di udara, desember. dengan formasi 2 gitar (cholil dan dito) 1 bass (poppie) 1 drum (akbar) 4 backing vocal (irma, monic, abigail, wisnu adji) dan orchestra Alvin witarsa. Ketika selesai menyenandungkan “desember” cholil mengundang adrian untuk datang ke panggung, sejenak suasana menjadi sedikit haru, tepuk tangan mengiringi kedatangan adrian ke atas panggung yang dituntun oleh asra. “bagi saya, ini adalah konser pertama. maka malam ini adalah malam yang bahagia untuk saya. saya harap malam ini akan menjadi malam yang membahagiakan untuk kalian” ucap adrian ketika sampai di tempat duduknya. Dengan adrian yang menjadi vocalis, mereka membawakan 4 lagu, jangan bakar buku, laki-laki pemalu, hujan jangan marah dan sebelah mata. Dan babak 1 pun selesai.

Istirahat 15 menit sebelum babak 2 dimulai kembali, cholil cs datang kembali dengan pakaian yang serba hitam-hitam. Di babak kedua ini efek rumah kaca membawakan lagu-lagu di album terbarunya Sinestesia yang sekaligus menjadi nama konser tersebut. Kali ini formasi berubah, menjadi 3 gitar (cholil, dito, hans) 1 bass (poppie) 1 drum (akbar) 4 backing vocal (irma, monic, abigail,wisnu adji) keyboard (asra) flute/trumpet (agustinus) . Terbukanya tirai babak 2 di iringi dengan lagu Merah, “aaa… aa… aaa… aa.. aaAA..” secara bersamaan seluruh penonton mengikuti suara cholil, khusus lagu merah ini diiringi cello dari Ricky Surya virgana. Urutan lagu yang dibawakan sesuai dengan apa yang ada di album merah, biru, jingga, hijau, putih, dan kuning. Setiap lagu dan fragmentnya yang dibawakan diiringi dengan visual yang bermacam-macam, membuat kesan yang diciptakan pun berbeda pada setiap lagunya.

Visual pada set panggung Konser sinestesia ini sangat mendukung suasana yang ada, seperti misalnya pada saat biru hijau dan merah dibawakan, suasana dibuat menjadi bersemangat, menggebu-gebu dan serius. lagu putih yang menjadi semakin dramatis dan magis ditambah dengan suara “monolog” dari adrian, membuat bulu kuduk berdiri. Bagi saya pribadi yang paling berkesan adalah ketika lagu jingga dibawakan, merinding ketika namanama korban kerusuhan 98 yang menghilang disebutkan, mungkin karena suara adrian yang sangat khas dan karakternya dan karena sejarah dan fakta yang ada. ditambah lagi ketika memasuki fragmen “nyala tak terperi” visual yang ada dibuat menjadi seperti sunset, dengan sebagian cahaya berwarna jingga secara perlahan bergerak naik turun dan memutari keseluruhan set panggung, membuat gradasi warna dan efek gelap terang yang ada menusuk kedalam jiwa dan membekas hingga saat ini. untuk penutup lagu kuning dilantunkan, berkolaborasi dengan wahyu hidayat (flute). Tak jauh berbeda dengan jingga, lagu ini dibawakan dengan suasana yang dramatis, dan suasana itu bertambah ketika ada choir anak berbaju putih-putih ikut bernyanyi pada fragmen keberagaman “ketika matahari sepenggal jaraknya padang yang luas tak ada batasnya, berarak… beriringan…. , berseru..dan menyebut… dia..” EARGASM! dan tirai pun tertutup dengan diiringi lagu daerah rakyat dayak “leleng” yang hanya diiringi oleh tepuk tangan.

Konser sinestesia ini berhasil menganastesi setiap pengunjungnya, badan dan fikiran seolah-olah terdiam sejenak tak dapat bergerak terhipnotis oleh suara-suara yang fantastis, lirik yang luar biasa, menggugah pikiran dalam setiap baitnya.Konser Sinestesia ini akan selalu teringat dalam benak setiap orang yang ada. Tak akan terlupakan sepanjang masa. Menjadi sejarah dalam dunia musik Indonesia. Terutama musik Indie Indonesia, sekali lagi efek rumah kaca memang benar-benar membuktikan bahwa Pasar memang bisa diciptakan.

Satu tanggapan untuk “Sinestesia yang Meng-Anestesi”

  1. Antara The Trees and The Wild dan “Mantan” – fiqihrpurnama Avatar

    […] di acara Soundlicious pada tahun 2010 yang bertempat di dago tea house. Selain menyaksikan konser ERK(sinestesia), mungkin melihat dan merasakan TTATW dengan rasuknya adalah pengalaman yang sangat berkesan […]

    Suka

Tinggalkan Balasan ke Antara The Trees and The Wild dan “Mantan” – fiqihrpurnama Batalkan balasan