Explore my side projects and work using this link

Upsidedown is a WordPress theme design that brings blog posts rising above inverted header and footer components.

Resensi: Catatan Harian Soe Hok Gie

Written in

oleh

“Sejarah dunia adalah pemerasan. Apakah tanpa pemerasan, sejarah tidak ada? Apakah tanpa kesedihan, tanpa pengkhianatan sejarah tidak akan lahir? Seolah-olah bila kita membagi sejarah maka yang kita jumpai hanya pengkhianatan, Seolah-olah dalam setiap ruang dan waktu kita hidup diatasnya. Ya, betapa tragisnya.” percaya atau tidak, pemikiran tersebut dipaparkan oleh seorang pemuda yang baru lulus SMA di tahun 1961. Soe Hok Gie lah nama pemuda itu, Seseorang yang hidup pada era orde lama yang selanjutnya menjadi salah satu tokoh penting dalam pergerakan mahasiswa pada masa itu, dan namanya melejit karena catatan hariannya yang dibukukan oleh LP3ES. Saya merasa malu setelah membaca seisi catatan harian beliau. Secara tidak langsung. Ketika membaca buku itu saya membandingkan diri saya dengan diri Soe Hok Gie ketika berada pada umur yang sama. Dan alangkah kosongnya saya! Ketika beliau lulus SMA dan melanjutkan kuliah di jurusan Sastra Universitas Indonesia, ilmu pengetahuan dan wawasannya sangatlah luas, mengingat sejak SMP beliau sudah banyak membaca buku karya Spengler, Shakespeare, Andre Gide, Amir Hamzah dan Chairil Anwar, Bernard Shaw, Shokolov di antaranya. Mungkin memang sejak kecil beliau telah menaruh minat pada sastra. Selain wawasannya yang luas Soe Hok Gie juga terkenal sebagai pemuda yang idealis, moralis dan menjunjung teguh keadilan. sikap idealis nya sangat tergambarkan dalam catatan hariannya tersebut “minggu-minggu ini adalah hari terberat untuk saya, karena saya memutuskan bahwa saya akan bertahan dengan prinsip-prinsip saya. Lebih baik diasingkan daripada menyerah pada kemunafikan”. adalah salah satu kutipan yang menggambarkan bahwa dia merupakan seorang idealis murni.

Buku “Catatan Sang Demonstran” yang merupakan kumpulan dari catatan harian Soe Hok Gie, dibagi menjadi 8 bagian (“pendahuluan Soe Hok Gie : Sang demonstran”, “Masa kecil”, “di ambang remaja”, “lahirnya seorang aktivis”, “catatan seorang demonstran”, “perjalanan ke amerika”, “politik, pesta dan cinta”, “mencari makna”) ini sudah saya lahap penuh, namun kesan membosankan sangat melekat pada pandangan saya terhadap buku ini. Saya menulis judul tulisan ini “Catatan Harian Soe Hok Gie” karena menurut saya lebih cocok dibandingkan dengan “Catatan Sang Demonstran” atau menurut Hidayat St.tarnadi dalam satu artikelnya menyebutkan judul yang tepat untuk buku ini ialah “Soe Hok Gie Sang Demonstran” atau diberi tambahan dibelakangnya dengan “Sebuah Catatan Harian”. Untuk menegaskan bahwa isi buku ini hanyalah sebuah buku catatan harian. Membaca buku ini, seperti membaca satu novel, tetapi tidak jelas penokohannya, dan seolah-olah hanya Soe Hok Gie lah satu-satunya orang baik dan benar dalam ceritanya. yang menjadi kekecewaan lagi ialah hilangnya catatan dari akhir Maret 1964 – Januari 1966. padahal dalam kurun waktu tersebut banyak terjadi pertistiwa penting seperti peristiwa G30S. Ditambah lagi dengan tidak disertakannya tulisan-tulisan pemikiran Soe Hok Gie yang biasa di publish oleh media cetak.

Bagian yang  menarik dalam buku ini yaitu berada di bagian 1: “Soe Hok Gie: Sang Demonstran” yang ditulis oleh daniel Dhakidae, menurut saya isi dari pendahuluan tersebut sudah seperti rangkuman seisi buku. dalam pendahuluan tersebut juga sering disebutkan nama Ahmad Wahib dan menghubungkannya dengan Soe Hok Gie karena terdapat persamaan antara keduanya. Atensi terbesar saya jatuh pada bagian 5 “catatan Seorang Demonstran” pada bagian tersebut Soe Hok Gie menceritakan aksi yang dilakukan para mahasiswa. suasana yang menegangkan, mencekam, juga banyak kejadian yang bisa membuat anda tertawa terdapat dalam bagian ini. Soe Hok Gie menuliskan segalanya, dari mulai perencanaan aksi mahasiswa, konflik dengan pemerintah maupun dengan sesama mahasiswa, hingga menuliskan lirik dari yel-yel yang diucapkan para demonstran didepan menteri “tek, kotek, kotek. ada menteri tukang ngobyek. Blok, goblok, goblok. Kita ganyang menteri goblok” ialah salah satunya. Saya cukup kagum akan keberanian dan intelektual yang dimiliki oleh para mahasiswa kala itu.

Soe Hok Gie lewat catatan hariannya telah membuat saya sadar akan pentingnya peran mahasiswa untuk negara. Namun jangan bandingkan peran mahasiswa pada zaman itu (Orla) dengan keadaan mahasiswa sekarang, karena menurut saya kondisi sosial politik yang ada telah jauh berbeda. Mungkin karena pemerintahan zaman sekarang sudah lebih terbuka bila dibandingkan dengan masa orla atau orba, selain itu kritik-kritik sangat mudah untuk disampaikan dengan bantuan teknologi yang tumbuh pesat. Jadi demonstrasi besar-besaran seperti yang lakukan para mahasiswa era ’66 yang sempat terulang di tahun ’98 saya rasa hampir tidak mungkin terjadi di zaman sekarang ini karena keadaan mahasiswa yang apatis dan acuh terhadap masalah sosial politik. Namun bisa jadi hanya karena belum ada momentum yang tepat untuk melakukan hal seperti itu. Cara berjuang mahasiswa pada era Soe Hok Gie itu sulit, dan mungkin tidak perlu dilakukan pada zaman sekarang, namun prinsip mereka tentang peran mahasiswa harus kita pegang teguh “kita, generasi kita ditugaskan untuk memberantas generasi tua yang mengacau. Generasi kita yang menjadi hakim atas mereka yang dituduh koruptor-koruptor tua, seperti… Kitalah yang dijadikan generasi yang akan memakmurkan indonesia”  Kita, mahasiswa sejak dulu hingga saat ini tetaplah generasi penerus bangsa untuk masa yang akan datang.

1841575

Judul                            : Soe Hok Gie : Catatan Seorang Demonstran

Jumlah halaman   : xxx + 385 halaman

Penerbit                    : LP3ES, Anggota Ikapi

Cetakan                    : Kesebelas, Oktober 2011

Satu tanggapan untuk “Resensi: Catatan Harian Soe Hok Gie”

  1. argasatrio Avatar
    argasatrio

    Mantap qih!
    Menurutku soe hok gie adalah salah satu figur mahasiswa yang patut kita tiru di masa mahasiswa yang egosentris ini, ketika banyak mahasiswa yang sudah tidak jelas arah pandangan pemikirannya, kupikir catatan seorang demonstran cocok untuk dijadikan referensi.

    Aku setuju dengan statment yang membandingkan gie dengan kita di kala usia yang sama, kita jauh darinya.

    Tapi intisari terpenting dari CSD menurutku ada pada bagian 8 Mencari makna karena digambarkan bahwa idealisme seorang gie masih sangat relevan dengan retorika kehidupan pribadinya

    Suka

Tinggalkan komentar