Explore my side projects and work using this link

Upsidedown is a WordPress theme design that brings blog posts rising above inverted header and footer components.

Kritik Untuk Reduhouse

Written in

oleh

Jika persoalan Krisis papan dan kebutuhan akan hunian perlu dijawab hari ini, praktisi/arsitek mana yang dapat menjawabnya lebih baik dari Rahmat Indrani dengan karya redusponsible architecture-nya?

Berlandaskan krisis hunian dan tumbuhnya kelas menengah di Indonesia, Ia menerjemahkan idenya dalam manifesto arsitektur reduksionis dan produknya Reduhouse. Menciptakan sebuah metode alternatif hunian tanpa sisaan material. Ergonomi, skala, luasan, fasad, material dirancang untuk se-efisien mungkin. Menciptakan arsitektur yang tidak mubazir. “memberikan alternatif untuk hunian yang jauh lebih terjangkau,” klaimnya

—-

Tapi menyoal keterjangkauan, dalam acara archinesia edisi Rahmat Indrani/reduhouse mengklaim dengan metodenya dapat membangun sebuah rumah dengan harga 172-262 USD/sqm (sekitar Rp 3.700.000 per meter persegi) dalam durasi waktu 4-6 bulan. Hal ini baik karena berhasil memangkas budget dan waktu dari rata-rata pembangunan yang konvensional.

Tapi dalam klaim itu tidak disebutkan luasan rumahnya, karena dikesempatan lain dalam wawancaranya dengan livinglovingnet dengan luas bangunan 160 m2 pengerjaan desain dikerjakan selama 5 bulan dan pembangunan dilakukan selama 11 bulan. Jika dalam prakteknya beberapa proyek dikerjaan dalam kurun waktu tersebut, maka metodenya tidak lebih cepat bahkan terhitung lebih lama dari pembangunan rumah konvensional yang disebutkan bisa 8-12 bulan.

Disebutkan juga oleh Rahmat Indrani bahwa mereka melakukan jasa rancang bangun dengan skema cost & fee. karena menurutnya dengan rancang bangun banyak pengerjaan yang lebih efisien karena detail dan konstruksi bangunan Reduhouse sudah dikuasai oleh pekarya yang tergabung dalam koperasi pekerja mereka. Namun tentu saja ini patut menjadi perdebatan karena ketika perancang merangkap juga sebagai pembangun hal tersebut melanggar etika profesi.

Hal ini juga membuat kita menyangsikan persoalan keterjangkauan reduhouse, karena pembangunan lebih efisien jika dikerjakan oleh tukang atau kontraktor tertentu saja. Tentunya hal ini bertolak belakang dengan prinsip dan cita-citanya soal keterjangkauan.

—-

Untuk menjangkau masyarakat yang lebih luas, reduhouse mempunyai limitasi yaitu penggunaan material. Sejauh ini dari karya yang sudah ada, hampir seluruhnya menggunakan material dengan dominasi baja dan kaca seolah hal ini sudah menjadi hal yang final.

Walaupun dengan jelas disebutkan bahwa target pasarnya adalah kelas menengah dan karya-karyanya masih di sekitaran jabodetabek + bandung. Dengan semangat #merdekapapan yang sering dibawanya tantangan sebenarnya adalah menjangkau kalangan yang lebih membutuhkan atau setidaknya bisa menjangkau pasar rumah subsidi yang ada dikisaran 150juta per rumah.

Reduhouse juga tentunya perlu eksplorasi terhadap penggunaan material yang lebih jauh untuk dapat menjangkau masyarakat yang lebih luas.

—-

Selain itu, jika kita melihat dari skala yang lebih luas, Reduhouse ini tidak ramah lingkungan.

Hal ini perlu diutarakan karena Reduhouse edisi Cleanomics diklaim menjadi bangunan yang low carbon footprint. Hal ini merupakan klaim yang berlebihan. Dalam operational energy mungkin bisa ditekan dengan pemanfaatan desain pasif. Tapi sedari awal pemilihan material dengan dominasi baja dan kaca sebagai material utama ini memiliki embodied energy yang notabene tinggi dan sudah merupakan sebuah keputusan yang tidak memiliki intensi untuk menciptakan bangunan low carbon footprint.

—-

Pemilihan material yang dominan baja dan kaca (yang seolah sudah final ini) juga membawa reduhouse ke permasalahan yang lain. Ia terjebak pada sebuah langgam.

Apakah pemilihan Baja (+ cat hitam), bata, tembok ekspose tanpa cat, plafon rendah, reorganisasi volume untuk menganulir ruang non-essensial ini dilakukan untuk efisiensi dan masih dalam semangat reduksionis atau sebenarnya demi memaksakan estetika “Reduhouse” demi branding dan lebih mudah dikenal serta dipasarkan?

Karena dalam rancangannya Reduhouse menganulir gudang sebagai ruang yang esensial, meniadakan ruang tamu, membuat plafon yang rendah (2,40 m) tapi hampir setiap karyanya menggunakan secondary skin.

—-

Lalu pertanyaan itu membawa kita ke pertanyaan terakhir. Jangan-jangan Reduhouse ini tidak berbeda dengan bangunan baja lainnya, karena setiap bangunan dengan struktur baja secara mau tidak mau harus mempertimbangkan modul dan ukurannya, mau tidak mau menjadi sebuah bangunan yang modular.

Jangan-jangan reduhouse ini hanya mengadaptasi metode yang digunakan Ahmad Djuhara pada rumah baja sugiharto. Kebaruan yang diciptakannya hanyalah branding Reduhouse dengan skema warna dan material yang spesifik agar lebih dekat dengan anak muda.

Jangan sampai kata Reduksionis dalam reduhouse ini akan bernasib sama dengan penggunaan kata industrial, minimalis, atau instagramable pada bangunan-bangunan masa kini yang maknanya telah hilang jauh dari asalnya.

Demi langgam, jangan sampai Reduhouse kehilangan maknanya untuk mewujudkan alternatif rumah yang terjangkau dalam semangat #merdekapapan

—-

Kritik ini akan saya tutup dengan kutipan Ahmad Djuhara di video interviewnya soal rumah baja sugiharto (klik disini untuk menuju video di menit 14:40)

Tinggalkan komentar