Beberapa bulan lalu, pada suatu malam minggu di parkiran Sabuga Bandung, diselenggarakan sebuah acara yang membuat saya untuk pertama kalinya menyesal telah menyaksikan Efek Rumah Kaca (ERK) secara langsung.
Ajakan untuk datang ke acara itu muncul beberapa hari sebelum hari acara tersebut digelar, dari teman-teman yang memang “langganan” menyaksikan ERK. Tapi, ketika ajakan itu muncul di layar telepon genggam, teringatlah beberapa tahun kebelakang, sebuah pengalaman buruk mengenai ERK /Pandai Besi yang tampil tanpa Cholil.
Saat itu, Pandai Besi (nama samaran ERK, :)) akan tampil di pentas seni sebuah SMA di jalan Belitung, Bandung (sekitar tahun 2014 atau 2015). Dengan perasaan suka cita saya melangkahkan kaki ke acara tersebut sendirian karena tidak ada yang mau menemani. Bagaimana tidak, kala itu Pandai Besi tampil sekitar pukul 4 – 5 sore, venue yang masih cukup lengang, membuat teman-teman lain enggan datang, karena kebanyakan memang datang bukan hanya untuk menyaksikan band kesukaan, tapi juga melirik dan memikat lawan jenisnya. Ditambah lagi set list band acara itu yang memang biasa saja. Saat itu, saya datang khusus untuk menyaksikan Pandai Besi.
Datang dengan ekspektasi yang cukup tinggi sore itu saya hadir lebih awal, agar bisa berada di berdiri barisan paling depan, tepat dihadapan barikade. Ketika MC yang membosankan itu mulai berusaha menghidupkan suasana dengan pertanyaan klise “kalian nungguin siapa sih?” sayalah yang berteriak paling kencang saat itu, dengan nada yang sedikit sumbang “Pandai Besi!!!!”
Tak lama setelah itu, mulailah satu per satu personil Pandai Besi menaiki panggung, dan tak lama dari itu juga saya pulang dengan rasa kecawa yang mendalam. Pandai Besi tampil seperti biasanya, tapi tampak kering dan yaaa berjalan begitu saja. Ketidakhadiran Hans (yang waktu itu masih mengisi gitar Pandai Besi) yang digantikan oleh entah siapa menjadi cukup berpengaruh, karena dia tampak seperti tidak siap tampil dan melakukan kesalahan jelas di beberapa lagu. Dan yang utama tentu karena MEREKA TAMPIL TANPA CHOLIL! KERING!
Sejak saat itu, saya berpikir “jangan nonton ERK atau Pandai Besi, jika tanpa Cholil!” hal itu jadi faktor utama, tapi yang jadi pertimbangan lain ialah Pandai Besi kala itu juga seperti tidak siap manggung. Mereka tampil tak lebih seperti Band SMA Audisian yang mengcover lagu-lagu ERK.
Ya, dan pengalaman buruk itu terulang di parkiran Sabuga, Efek Rumah Kaca tampil tanpa cholil, dan juga tampil tanpa additional gitaris biasanya (ditto). Dan tampil sama keringnya dengan Pandai besi di pensi SMA kala itu. Walaupun saat itu ada Adrian yang mengisi vocal. Cacatnya penampilan mereka malam itu terlihat jelas ketika membawakan lagu kau dan aku menuju ruang hampa, di lagu yang kental dengan lead gitarnya ini sang gitaris additional melakukan beberapa kali kesalahan yang jelas menjadi kesalahan yang sangat terasa dan mengganggu.
Untunglah pada malam itu acara penuh dan sesak oleh fans Efek Rumah Kaca, sehingga sepanjang penampilannya tertutupi oleh gumaman dan nyanyian para penonton menutupi penampilan mereka yang “seenaknya” itu.
Baiklah, mungkin memang satu dua kesalahan pada penampilan sebuah band bisa kalian anggap wajar. Tapi yang jelas saya rasakan adalah adanya perbedaan kualitas yang ditampilkan, diluar mereka tampil dengan atau tanpa cholil, ERK kala itu tampil “seenaknya”. Sayang tak sempat untuk merekam penampilan mereka kala itu, tapi saya rasa seharusnya para personel ERK kala itupun merasakannya. Memang tak ada salahnya mereka berusaha mengaransemen ulang atau menyesuaikan nada dan musiknya ketika tampil tanpa cholil, tapi jangan sampai lupa juga dengan kualitas yang mereka tampilkan.
Hal yang paling ditakutkan adalah mereka melupakan kualitas. Band yang berteriak “pasar bisa diciptakan” berulang kali ini memang telah membuat pasarnya sendiri, tapi jangan sampai mengikuti band-band atau solois murahan yang menjadi norak dan menjijikan ketika telah memiliki pasarnya sendiri. Dan hal yang paling mengerikan adalah membayangkan jika suatu hari ERK tampil lipsync di sebuah acara musik, karena tak memperdulikan lagi kualitas live mereka. naudzubillahimindzalik (jangan bilang ini tidak mungkin, setelah essien menjadi pemain persib, saya percaya tak ada yang tak mungkin di dunia ini)
Memenggal Ketidakjelasan ERK
Kabar yang sangat menggembirakan adalah ketika beberapa bulan kebelakang Pandai Besi mengeluarkan single barunya, “Rintik” yang menjadi lagu pertama mereka yang “benar-benar” baru, karena sebelumnya mereka hanya terlihat seperti pelampiasan rasa jenuh Cholil dan Akbar dalam ber-Efek Rumah Kaca, yang juga harus ditinggalkan Adrian beberapa waktu.
“Rintik” ini merupakan sebuah jawaban sekaligus juga sebuah pembuktian, bahwa Pandai Besi dan ERK itu berbeda. Karena selama ini, itu cukup membingungkan. Teringat jelas ketika cholil kebingungan menjawab pertanyaan penggemarnya yang menanyakan bagaimana posisi pandai besi dan ERK kedepannya pada acara screening film “siar daur baur” di kineruku. Tapi yang jelas, Cholil sendiri sudah memiliki visi bahwa ia menginginkan bahwa Pandai Besi ini bisa berjalan sendiri, tanpa Cholil tentunya. Lagu ini menjadi sebuah pembuktian karena tak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulut Cholil pada bagian vocalnya. Lagu ini milik pandai Besi, bukan milik Cholil ataupun milik Efek Rumah Kaca.
Vocal yang didominasi oleh Poppie juga memberikan warna yang unik dan berbeda dari Pandai Besi yang sebelumnya. Lalu suara keyboard, flute, trumpet, gitar, ketukan drum dan Backing Vocal dari Monica Hapsari dan Natasha Abigail tetap hadir untuk menegaskan bahwa lagu ini tetap Pandai Besi. Lagu ini juga membuat kita patut menunggu mereka untuk berkarya lagi. Dan sekaligus memberikan diferensiasi antara Pandai Besi dan Efek Rumah Kaca
Dan kabar menggembirakan lainnya datang lagi pada awal juni 2017, Adrian Yunan bassist dari Efek Rumah Kaca mengeluarkan album Solonya. “Sintas”.
Dilansir dari rollingstone.co.id, album Sintas ini ditulis dan diolah oleh Adrian dalam kurun waktu 2010 hingga 2015. Album ini menceritakan mengenai perjalanan hidupnya, dimana Ia bisa bertahan hidup, terutama ketika ia bertahan berada di titik terendah ketika mengidap penyakit yang dideritanya. Sesuai dengan arti sintas pada KBBI yaitu bertahan hidup, atau mampu mempertahankan keberadaannya.
Adrian Yunan jelas merupakan sosok yang inspiratif dimana ditengah penyakit yang dideritanya, Ia mampu bertahan dan yang paling memukau Dia masih bisa berkarya. Perjalanan hidupnya yang menarik itu Ia curahkan pada 10 lagu semi akustik di album Sintas ini.
Mulai dari lagu mikrofon yang menceritakan bahwa Ia menikmati khusyuknya berada didepan mikrofon, romansa berlibur ke laut dengan sang istri pada lagu “Terminal Laut” hingga lagu “Mainan” yang menceritakan mengenai mainan anaknya dan sekaligus menceritakan kepekaannya ketika berada di rumah. Dan tentunya Lagu “Komedi Situasi” yang diproduksi sangat unik dan menarik dengan sekenario Elda Suryani Vocalis dari Stars & Rabbit yang bernyanyi sekaligus bercerita, yang saling bersahutan dengan vocal Adrian. Namun ada satu yang disayangkan, Vira Talisa Dharmawan hanya terlibat dalam pembuatan illustrasinya, tidak dalam salah satu track dalam album ini.
Album ini juga memberikan warna lain juga untuk “lingkaran” Efek Rumah Kaca. Dengan musiknya yang sederhana nan meneduhkan, dibalut juga dengan lirik yang mendalam, Adrian mengatakan ketika membuat album ini ia terinspirasi oleh Simon & Garfunkel, Ian Brown, Fiona Apple, Namun terkadang, setelah beberapa kali mendengarkan Sintas, terdapat beberapa lagu yang mengingatkan saya dengan alm. Chrisye.
Acungan Jempol Untuk Kolektivitas “ERK”
Seperti yang telah kita ketahui, saat ini baik itu Efek Rumah Kaca, Pandai Besi, maupun album baru dari Adrian Yunan ini diisi oleh orang-orang yang itu-itu lagi. Hal ini bisa menyebabkan kebosanan jika mereka hanya bergantung pada Efek Rumah Kaca dan berdiam diri, dan di sisi lain mereka bisa menjadi sangat mengagumkan jika dapat menghasilkan karya-karya yang segar dan baru.
Efek Rumah Kaca tak akan pernah sama tanpa Cholil. Tapi jangan ikuti Blink182 yang tetap berjalan meski tak lagi bersama dengan Tom Delonge, Saya rasa akan lebih tepat ketika ERK mengikuti jejak peterpan yang berhenti sejenak ketika Ariel tak berada di tengah mereka. Tapi sering-seringlah cholil pulang. 🙂
Berhentilah bergantung pada Efek Rumah Kaca karena tentu tidak akan memuaskan jika tampil tanpa Cholil, tapi teruslah berkarya karena sangat menyenangkan ketika mendengar Pandai Besi atau Adrian Yunan menjadi sebuah penampil di suatu acara, bukan untuk berpura-pura menjadi Efek Rumah Kaca.

Tinggalkan komentar