Explore my side projects and work using this link

Upsidedown is a WordPress theme design that brings blog posts rising above inverted header and footer components.

Antara The Trees and The Wild dan “Mantan”

Written in

oleh

The Trees & The Wild (TTATW) band kenamaan asal Bekasi yang baru saja menggelar konser di beberapa kota. Saya berkesempatan untuk menyaksikan salah satu gelaran konser yang bertajuk “I’ll Believe In Anything” di Bandung, pada tanggal 3 Desember 2016 yang bertempat di auditorium IFI, dan selain itu, mereka baru saja pulang dengan membawa setumpuk puji-pujian setelah tampil pada festival music di Hongkong, Clockenflap, bersama band mancanegara lainnya, salah satunya Sigur ros.

Bila mendengar band The Trees & The Wild, kata “move on” selalu terngiang dalam pikiran. Karena tak bisa dipungkiri bahwa saya termasuk orang yang sulit move on, bukan persoalan mantan pacar atau yang lainnya, tapi sulit untuk bisa menerima perbedaan antara TTATW pada album pertama (rasuk) dengan album kedua yang baru-baru saja direalease dengan tajuk Zaman, zaman.

Rasuk yang di realease pada tahun 2009 merupakan sebuah gerbang pembuka menuju ketertarikan saya dengan musik-musik yang serupa, terutama pada musik-musik post rock dan folk. Walaupun memang Rasuk mungkin tidak bisa disebut sebagai musik post-rock. Ada juga beberapa kawan yang menyebut mereka Acoustic folk. Tapi TTATW selalu saya sisipkan kedalam playlist saya untuk bersanding dengan Autumn Ode, UTBBYS, Ansaphone, Godspeed you! Black Emperor, Explosions In the Sky, Sigur ros, atau bahkan Bark Psychosis. Entah kenapa.

Setelah mengetahui dan mendengar band yang “serupa” dengan music yang dibawakan TTATW, mereka selalu menjadi band yang paling saya sukai. TTATW pada album rasuk memiliki satu ciri khas tersendiri yang saya tidak dapatkan di band-band lain. Mungkin juga karena mereka memang tidak dapat dibandingkan dengan siapapun. Mereka menciptakan satu tipologi musik sendiri dengan komposisi instrument dan arransemen yang mereka miliki. Dua Gitar akustik, satu gitar elektrik, drummer, perkusi, satu vocal pria dan 1 vocal wanita. Komposisi tersebut berhasil menciptakan satu band yang “gila” dan menyebarkan adiksi tersendiri bagi siapapun yang mendengarnya.

Kita mendapatkan segalanya dari musik mereka, sing along di “Derau dan Kesalahan”, bersenandung di “Fight For The Future” atau “Irish Girl”, Melamun di “Verdure”, dan tersenyum bahagia pada lagu “Our Roots”, dan lagu lainnya yang selalu mempunyai “pengalaman” unik tersendiri ketika kita mendengarkannya. Beruntunglah saya, karena pernah mencicipi kesyahduan rasuk secara langsung ketika mereka tampil di acara Soundlicious pada tahun 2010 yang bertempat di dago tea house. Selain menyaksikan konser ERK(sinestesia), mungkin melihat dan merasakan TTATW dengan rasuknya adalah pengalaman yang sangat berkesan setelahnya.

Setelah beberapa tahun tak terdengar, mereka hadir dengan berita salah satu anggota mengundurkan diri. Saya sempat kecewa dan mengira bahwa TTATW tidak akan lagi muncul dan memilih untuk membubarkan diri. Namun ternyata tidak. Mereka muncul dengan cara yang mengejutkan. Suara-suara dari gitar akustik mereka berkurang, komposisi dirombak, Remedy Waloni vocalis sekaligus gitaris, yang biasanya menggunakan gitar akustik, kini sering kali menggantinya dengan gitar elektrik.  Andra Kurniawan pun kini menggunakan gitar elektrik, Hetri Nur Pamungkas pada drum dengan perkusi yang menghilang, lalu vocal Charita Utamy yang menjadi lebih dominan dengan memainkan syntheizernya. Dan pada September 2016 lalu, mereka me-realease album barunya, “Zaman, Zaman”.

Dengan keberadaan album kedua mereka membuat saya percaya bahwa ada unsur pengaruh post-rock pada proses penciptaan musik pada album rasuk. Setelah sekian lama hanya menikmati penampilan mereka melalui layar kaca virtual. Saya tak mau melewatkan penampilan mereka ketika hendak tampil pada acara Focal Point yang bertempat di Bumi Sangkuriang, itu menjadi kali pertama saya menyaksikan TTATW “yang baru”. Dan yang terakhir di konser yang mereka selenggarakan beberapa minggu lalu.

Sebelum saya membeli tiket konser ini, didalam benak saya selalu teringat tentang tulisan Ucok Homicide yang bercerita tentang pengalamannya ketika menyaksikan konser Godspeed You! Black Emperror di Malaysia. Saya menerka-nerka mungkin konsep yang akan diusung oleh Konser yang bertajuk “I’ll Believe In Anything” ini akan seperti itu, walaupun dengan keadaan yang lebih sederhana. Karena persona yang dimiliki oleh TTATW sekarang mirip dengan Godspeed You!Black Emperror. Serba Hitam, Misterius, dan Gelap. Dan benar saja, Ketika memasuki auditorium, penonton disuguhkan oleh kegelapan, pencahayaan yang ada hanya menyoroti peralatan yang telah disiapkan diatas panggung, selebihnya gelap. Ketika jam menunjukan pukul 19.30 satu per satu personil memasuki panggung, sejenak suasana riuh obrolan para pengunjung sirna dan hening seketika ketika mereka langsung memainkan lagu pertama.

Mereka menyuguhkan seluruh materi pada album zaman,zaman. Mulai dari srangan, Tuah Sebak, Monumen, Zaman,Zaman, Saija, dan diakhiri oleh sing along yang sangat panjang pada lagu Empati Tamako. Namun ternyata mereka belum akan mengakhiri konser tersebut, sempat ragu apakah ada lagu apa yang akan mereka bawakan yang bisa melibihi klimaks dari Empati Tamako. Ternyata mereka menambahkan beberapa lagu yang berasal dari album terdahulu, yaitu Derau dan Kesalahan, Kata dan yang benar-benar menjadi penutup ialah Our Roots, cukup mengobati kerinduan walaupun terasa sedikit ada yang kurang.

Saya sangat menikmati konser ini. Mereka berhasil membawa pengunjung dan penggemar mereka yang datang saat itu menembus batas seolah-olah berada pada dimensi yang berbeda. Pada Zaman, zaman Vocal yang dominan berubah menjadi samar dengan efek-efek yang diciptakan. Sound akustik digantikan dengan riuhnya echo yang dihasilkan dari kedua gitar dan synthesizer, bahkan di satu lagu pada zaman,zaman seluruh personil mereka hanya menggunakan synthesizer. Bebunyian yang mereka hasilkan membuat setiap pendengar merasakan pengalaman yang menarik dan eksentrik untuk sebuah pengalaman datang ke sebuah konser. Mungkin tidak sedikit mereka yang hadir mendengarkan dengan menutup mata lalu berkontemplasi mengenai hal-hal yang tak pernah terpikirkan sebelumnya.

Dengan adanya Zaman, zaman dapat dikatakan bahwa TTATW telah menjadi band yang berbeda dari mereka yang sebelumnya. TTATW benar-benar berubah. Mereka move on. Tapi sulit melupakan “Rasuk” dan sulit menerima perbedaannya yang signifikan, bukan berarti tidak menyukai “Zaman, Zaman” pada dasarnya tidak patut kita untuk menyangsikan kualitas dan musikalitas yang dimiliki oleh TTATW, terlihat dari kedua album mereka yang sangat menggelegar. Namun yang perlu disadari, kita tidak dapat membandingkan kedua album yang telah mereka keluarkan. Karena keduanya sangat berbeda. TTATW kini memiliki dua “kepribadian”, dan memilih untuk menjadi seperti ini, Zaman, Zaman.

Tinggalkan komentar