Modernisme khususnya pada konteks Arsitektur hadir setelah Revolusi Industri, dia hadir dengan menggadang-gadang rasionalitas, menekankan fungsi dengan kesederhanaannya. Semua harus Efektif dan efisien adalah perkataan yang sering muncul dan identic dengan modernisme. Modernisme yang berasal dari Industrialisasi ini membuatnya menjadi sangat praktis, berkembang sangat cepat dan merasuk kedalam negara-negara eropa pada awalnya dan merebak keseluruh penjuru dunia setelahnya. Universalitas adalah kata yang tepat untuk modernisme ini, budaya tidak dipikirkan didalamnya.
Pendekatan modernisme bersifat obyektif, teoritis, dan analitis, sehingga menciptakan kecenderungan keseragaman dalam melakukan perancangan. Karena berdasar dari industri, modernisme ini memiliki keunggulan yaitu biaya yang cenderung murah dan mudah dalam pengerjaannya. Arsitektur modern mengutamakan kesederhanaan bentuk dan menghapus segala macam ornamen. Sesuai dengan jargon-jargon Bapak-bapak modern arsitektur seperti “less is more” dari ludwig mies van der rohe adalah salah satunya.
Seiring perkembangannya, arsitektur modern ini membuat segmentasi dan identitas sendiri. Modernisme menjadi satu identitas yang universal, dan tersebar di seluruh penjuru dunia. Modernisme meciptakan suatu keseragaman dalam perancangan suatu desain arsitektur yang juga mengakibatkan keseragaman ruang-ruang yang diciptakan di tiap-tiap penjuru dunia. Industrialisasi selain menghasilkan modernism dalam perkembangannya juga menghasilkan globalisasi dan liberalisasi. Namun pembentukan identitas ekslusif dan universal ini tidak sepenuhnya merupakan suatu yang positif, karena akibatnya daerah-daerah kehilangan identitas aslinya.
Kegelisahan itulah yang menjadi tonggak awal lahirnya post-modernisme dan salah satunya lahir juga paham regionalism. Regionalism praktisnya merupakan pemahaman yang menekankan pada suatu ke khasan pada region atau daerah tertentu. Dalam konteks arsitektur, regionalism lebih mengarah pada pendekatan mendesain atau merancang suatu bangunan dengan mengedepankan budaya-budaya local pada daerahnya. Singkatnya, Regionalism dalam arsitektur ini merupakan metode merancang agar suatu bangunan kontekstual pada budayanya. Namun selain kontekstual dengan budaya local, regionalism juga menggunakan metode eklektik dalam pemahamannya, karena memiliki kecenderungan memilah dan memilih hal-hal terbaik dari beberapa aspek, tentunya dalam aspek kontekstualitas dan juga mempertimbangkan aspek modernitas.
Munculnya paham Regionalism ini juga seperti suatu perlawanan akan maraknya penanaman nilai-nilai modern dalam dunia arsitektur , ketika modernitas sudah terlalu mendarah daging pada banyak arsitek-arsitek yang bermunculan berbanding lurus dengan ketidakjelasan ciri dan kekhasan yang dimiliki oleh suatu daerah tertentu, menyebabkan keseragaman antar daerah bahkan antar negara. Terlihat dari banyak gedung-gedung tinggi di berbagai negara dengan corak dan bentuk yang seragam. Tidak memiliki identitas masing-masing daerah. Hal itu membuat sense of places dari tiap daerah membias.
Chris Abel mengungkapkan dalam reviewnya yang bertajuk “Perubahan Regional” ( The Architectural Review, November 1986 ) bahwa Regionalisme dalam arsitektur merupakan bagian dari seluruh pengarahan kembali atas kualitas hidup, sebagai penentangan terhadap penghapusan paham perluasan ekonomi dan kemajuan material dalam hal pembiayaan. Hal ini lebih memusatkan perhatian pada para pengguna bangunan daripada penyediaan perluasan ekonomi dan material. Seharusnya hal ini juga dibedakan dengan jelas dari keraguan yang berlebihan atas sebuah konsep arsitektur nasional.
Chris abel, dalam hal ini juga mengungkapkan bahwa modernism dalam arsitektur juga tidak melulu bergerak dalam bidang ilmu yang khusus dan ekslusif, terdapat juga aspek-aspek lain yaitu yang paling berdampak ialah aspek ekonomi dan neo liberalism. Karena dalam neoliberalisme yang selalu meneriakan kegiatan pasar bebas ini menciptakan satu hal yang sangat signifikan dalam penyeragaman ruang-ruang yang ada di seluruh penjuru dunia.
Salah satu contoh konkret penyeragaman yang berawal dari modernism dan industrialisasi ini ialah muncul toko-toko atau restaurant yang bersifat global dan membangun bangunan yang serupa pada tiap-tiap negara kita sebut saja Mcd, KFC, atau starbuck coffee. Dimanapun dan kapanpun mereka mengembangkan atau membangun franchisenya, selalu dirancang dengan bentuk yang serupa dan suasana yang tidak berbeda jauh pula, mereka tidak memikirkan budaya yang ada di setiap negaranya. Atau yang telah disebutkan sebelumnya, bangunan tinggi yang telah banyak yang seragam.
Old oak common, suatu daerah di London, yang direncanakan menjadi daerah penghubung antara kota-kota sekelilingnya merasakan hal yang sama, Para warga disana memiliki ketakutan akan menghilangnya identitas dari wilayahnya sendiri. Mereka gelisah dan takut kehilangan ruang-ruang yang telah menjadi identitas dari wilayahnya.
Amos Rapoport menyatakan bahwa Regionalisme meliputi “berbagai tingkat daerah” dan “kekhasan”, dia menyatakan bahwa secara tidak langsung identitas yang diakui dalam hal kualitas dan keunikan membuatnya berbeda dari daerah lain. Hal ini memungkinkan mengapa arsitektur Regional sering diidentifikasikan dengan Vernakuler, yang berarti sebuah kombinasi antara arsitektur lokal dan tradisional ( asli ). Dalam hal ini, regionalism juga berjalan untuk mencari identitas kedaerahan yang mulai tergerus oleh keberadaan modernism yang cenderung membuat dunia menjadi seragam dan daerah-daerah kehilangan jati dirinya.
Maka dari itu Regionalisme ini merupakan suatu paham dan metode pendekatan dalam mendesain yang berusaha untuk menemukan kembali jati diri kita yang telah memudar dan bahkan nyaris tak terlihat lagi eksistensinya. Regionalisme bukan sepenuhnya menentang atau melawan Modernisme, melainkan memiliki tendensi ke arah kearifan lokal yang dileburkan dengan keunggulan-keunggulan Modernisme. Regionalisme menjunjung tinggi identitas suatu daerah, namun tetap memperhatikan keadaan dunia yang modern.
Tinggalkan komentar