“Dalam kehidupan mahasiswa arsitektur, kita selalu di doktrinasi oleh ordering principle dengan dalih itulah nilai yang benar dan paling universal, namun apakah hal itu masih akan tetap berguna juga ketika menjadi seorang profesional?”. itulah pertanyaan yang saya ajukan kepada arsitek kenamaan tan tik lam, pada hari selasa 27 oktober 2015 di kuliah umum studio perancangan arsitektur 3 UNPAR.
Dari mulai saya melangkahkan kaki di dunia pendidikan arsitektur, kata ordering principle selalu didengungkan secara keras dan masif oleh setiap dosen atau pengajar yang ada, seolah-olah itu merupakan satu hal yang mutlak dan tak tertandingi. seperti al quran untuk muslim, seperti injil bagi kristiani, dan ordering principle bagi mahasiswa arsitektur.
Ordering Principle sendiri ialah suatu unsur-unsur yang terdapat dalam tatanan atau susunan perancang arsitektur, tersebut dibuat oleh F.D.K. Ching yang dibukukan, yaitu “Architecture Form-Space-Order”. ada 6 unsur didalam ordering principle, yaitu axis, simetry, hierarchy, datum, repetitition, transformation.
Setelah sekian lama kalimat tanya itu mengganggu kehidupan saya, akhirnya hari ini bisa ditumpahkan kepada orang yang tepat. seorang arsitek ternama di indonesia, dan satu almamater, tan tik lam. “prinsip-prinsip dasar yang selalu diajarkan di kehidupan mahasiswa arsitektur seperti neufert misalnya, itu sangatlah berguna dan saya pun menggunakannya dalam melakukan perancangan. Namun, dengan pengalaman dan jam terbang saya di dunia arsitektur, prinsip dasar itu diimplementasikan dengan gaya/ciri khas yang saya punya. berbeda dengan halnya kalian sebagai mahasiswa, kalian masih dalam proses belajar, dan mencari. Jadi haruslah mempunyai satu dasar yang kuat. disitulah terdapat guna dari Ordering principle” jawabnya
Yang bisa saya tangkap dari jawaban tersebut ialah sebenarnya dalam pendidikan arsitektur, atau pendidikan apapun itu, pasti dan harus terdapat satu dasar yang harus dipahami terlebih dahulu, seperti misalnya matematika, kita tidak akan dapat menjawab soal integral jika kita belum fasih dalam hal perkalian atau pembagian. Apalagi dalam arsitektur, bagaimana kita bisa merancang suatu bangunan jika kita tidak mengetahui prinsip-prinsip dasar?
Mungkin sudah selayaknya kita mencari dan membuat sesuatu pemikiran yang baru atau yang biasa kita sebut inovasi. Namun itu semua harus berdasar, dan melalui suatu pemikiran yang matang, bukan dengan arogansi.
Kita juga sebagai seorang mahasiswa, ataupun pelajar sudah sewajarnya lebih memperhatikan proses dibandingkan hasil. Karena kemapanan dan kemampuan seseorang itu tidak akan mampu bertahan lama jika kita tidak melalui suatu proses yang konstruktif, mana mungkin arsitek sekaliber le corbusier menjadi arsitek legendaris hanya dalam satu malam? pastilah ia telah mendapatkan banyak pelajaran dari apa yang telah ia pelajari dan alami.
Nobody became that good without process -Pandji Pragiwaksono
Mungkin memang kita harus kritis pada hal-hal yang ada di sekeliling kita, namun saya harus tegaskan, kritis disini sendiri haruslah kritis yang relevan. bukan hanya kritis terhadap kejadian sekitar, tapi kitapun harus kritis terhadap diri kita sendiri. Katakan salah ketika apa yang kita lakukan salah, dan katakan kebenaran ketika hal itu disembunyikan.
Tinggalkan komentar